Ikut Suami Atau ???


Sebenernya yang jadi highlight saya bukan “ikut suami”nya sih..melainkan titik² pada judul diatas...hahaha apa hayooo...

Yak, saya memilih keluar dari comfort zone pekerjaan yang lama.

Saya sebenarnya merasa berdosa banget sama teman² dikantor lama saya, kenapa ? Karena di postingan sebelumnya saya cerita kalau alasan saya resign karena mau ikut suami keluar kota yang di pindah tugas ke Surabaya tapi sebenernya saya mendapat pekerjaan di tempat baru. Maafkan aku teman², aku berbohong kepada kalian :(

Kalau saya bilang ikut suami keluar kota, pasti atasan saya mengijinkan saya resign, tapi kalau saya bilang mendapat kerjaan baru otomatis pasti di tahan² dan harus menunggu waktu 1 bulan untuk dapat pengganti saya. Sedangkan diperusahaan baru tempat saya bekerja butuh saya secepatnya untuk bergabung. Akhirnya saya memilih alasan untuk ikut suami keluar kota.

Saya bekerja di salah satu perusahaan ritel electronik terbesar di Indonesia. Saat ini saya lagi menjalani masa probation, saya berharap semoga masa probation dan masa² selanjutnya bisa berjalan dengan lancar. Amin. Udah 2 bulan saya disini, untuk sekarang lumayan cukup enak dengan pekerjaannya, sesuai job desc juga.
Ngomongin gaji, emang sih di perusahaan yang sekarang gajinya lebih kecil dibanding perusahaan yang lama. Cuma suami bilang jalanin dulu aja dari pada gaji gede tapi job desc gak jelas mending disini. Jujur, diperusahaan lama tempat saya bekerja dulu, gajinya lumayan gede cuma job desc saya disana gak jelas, bisa dibilang kerjanya serabutan. Yang bukan kerjaan kita jadi kita yang ngerjain, itulah keputusan saya yang akhirnya membuat saya resign.
Berpindah ke kantor baru, lingkungan baru yang luas, membawa saya pada perubahan. Banyak hal yang saya pelajari, terutama tentang pribadi orang² di kantor besar ini. Walaupun to be honest, saya kurang suka dan gak bisa nge-blend dengan pola pikir dan kebiasaan kebanyakan dari mereka. Tapi, selama tidak mempengaruhi pekerjaan, saya gak masalah. Di beberapa kesempatan, saya pun mencoba untuk ikut agenda ‘nongkrong’ atau makan bareng. Sesekali. Hehe. 

Ketika kenyataan membawa saya untuk punya bos perempuan. No comment. Yang jelas, apa yang dikatakan pendapat tentang perbedaan bos laki² dan perempuan itu berlaku secara bervariasi terhadap saya.
Satu hal yang gak bisa dihubung²kan adalah cara seorang bos menginginkan suatu masalah/pekerjaan selesai. Entah kalau bos cowo bisa lebih santai itu bener apa gak. Yang jelas, entah itu bos laki² atau perempuan, jika menginginkan semuanya cepat beres tanpa memikirkan dan bertoleransi pada hambatan yang dihadapi anak buahnya, jelas menjengkelkan.

Juga, bos yang terlalu perfeksionis, mengharapkan semua pekerjaan selesai dengan sempurna tanpa cela. Well iya sih, itu otoritas seorang bos untuk memerintah ini-itu. Namanya juga BOS.

Yang jelas mesti banyak sabar deh, segala konsekuensi mesti diambil.

0 Comments:

Posting Komentar